Makalah
Psikologi
Pendidikan
“
Pertumbuhan
Dan Perkembangan Anak Dan Remaja Sebagai Peserta Didik ”
Dosen
Pengampu : Dra. Hj. Wawat Suryati, M.Pd.
Disusun
oleh :
Kelompok 2
Dian
Permata Dewi 15110023
Dina
Sita Sintanis 15110026
Dianti
Ayu Puspita Sari 151100
Erlian Purnama
Sari 15110035
Noviyanti
Putri 15110076
![]() |
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP-PGRI) BANDAR LAMPUNG
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur diucapkan kehadirat Allah SWT
yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya. Karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya bisa menyelesaikan penyusunan makalah kelompok ini. Makalah ini
disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Psikologi
Pendidikan, yang berjudul “ Pertumbuhan
Dan Perkembangan Anak Dan Remaja Sebagai Peserta Didik “.
Makalah ini telah disusun
berdasarkan sumber-sumber yang ada, namun disadari bahwa makalah ini masih
belum sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran demi perbaikan dan
penyempurnaan akan diterima dengan senang hati.
Akhir kata diucapkanterimakasih.
Bandar Lampung, 22 Maret 2016
Penyusun
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar........................................................................................................................... ii
Daftar Isi...................................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.3
Tujuan Penulisan..................................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................................................. 2
1.1 Latar Belakang....................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pertumbuhan
dan Perkembangan Anak dan Remaja sebagai Peserta Didik......................... 3
2.2 Karakteristik
Pertumbuhan dan Perkembangan anak dan Remaja........................................ 5
2.3 Definisi Pertumbuhan dan Perkembangan............................................................................. 12
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
............................................................................................................................ 17
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pertumbuhan
dan perkembangan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain
dalam kehidupan manusia. Pertumbuhan lebih mengarah pada perubahan pada fisik
manusia baik itu penambahan massa tubuh, penambahan tinggi badan maupun hal
lainnya berkaitan dengan fisik. Akan tetapi kalau berbicara mengenai
perkembangan lebih mengarah pada pola pikir kemudian kematangan mental,
misalnya saja perkembangan dari anak menuju remaja yang ditandai dengan masa
pubertas (Menstruasi pada perempuan dan mimpi basah pada laki-laki).
Begitu pula dengan perkembangan manusia menuju pendewasaan yang ditandai dengan
sikap yang matang dan menjadi panutan bagi orang di sekitarnya. Apabila
dikaitkan dengan pembelajaran psikologi pendidikan, maka perkembangan menjadi
kajian yang lebih ditekankan untuk melihat bagaimana perubahan yang terjadi
pada individu dalam kaitannya dalam dunia pendidikan.
Perkembangan individu tentunya tidak bisa dilihat secara spontan tanpa adanya
spesialisasi yang khusus antara satu dengan yang lain. Sebagaimana dalam
memberi perlakuan antara satu individu satu dengan yang lain juga harus
memperhatikan faktor usia untuk melaukan pendekatan yang tepat sesuai dengan
perkembagan pola pikir masing-msing individu. Oleh karena itu juga secara
spesifik perkembangan dibagi atas perkembangan pada anak, perkembangan remaja
dan perkembangan dewasa. Yang dalam praktiknya perkembangan ini juga harus
sejalan dengan pertumbuhan dari seorang individu untuk memproleh hasil yang
maksimal dalam proses penerapan konsep psikologi pendidikan.
Perkembangan
anak manusia merupakan sesuatu yang kompleks, artinya banyak faktor yang turut
berpengaruh dan saling terjalin dalam berlangsungnya proses perkembangan anak.
Baik unsur-unsur bawaan maupun unsur-unsur pengalaman yang diperoleh dalam
berinteraksi dengan lingkungan sama-sama memberikan kontribusi tertentu
terhadap arah dan laju perkembangan anak tersebut. perkembangan seseorang
berlangsung sejak dilahirkan sampai dengan mati. Memiliki arti kuantitatif atau
segi jasmani bertambah besar bagian-bagian tubuh. Kualitatif atau psikologis
bertambah perkembangan intelektual dan bahasa.
Sehubungan
dengan hal itulah maka dalam pembahasan ini penulis akan membahas mengenai
pertumbuhan dan perkembangan anak dan remaja sebagai peserta didik, dengan
harapan nantinya dapat memberikan pemahaman bahwa perhatian pada pertumbuhan
dan perkembangan anak dan remaja akan sangat memberikan pengaruh pada
keberhasilan di dunia pendidikan terkhusus dalam proses belajar-mengajar.
1.2
Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah penulis uraikan dapat dirumuskan beberapa
masalah yang akan menjadi materi pokok yang dibahas dalam makalah ini, antara
lain:
1.
Apa yang dimaksud
dengan pertumbuhan dan perkembangan?
2.
Bagaimanakah
karakteristik pertumbuhan dan perkembangan anak dan remaja?
3.
Bagaimanakah
pertumbuhan dan perkembangan anak dan remaja sebagai peserta didik?
1.3
Tujuan Penulisan
Dari penulisan makalah ini ada beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh penulis,
antara lain:
1. Agar
pembaca dan penulis mengetahui apa yang dimaksud dengan pertumbuhan dan
perkembangan.
2. Agar
pembaca dan penulis mengetahui bagaimana karakteristik pertumbuhan dan
perkembangan anak dan remaja.
3. Agar
pembaca dan penulis mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak dan remaja
sebagai perserta didik.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Definisi Pertumbuhan dan Perkembangan
Istilah-istilah
pertumbuhan dan perkembangan sering digunakan orang secara “interchangeably”
artinya keduanya itu dipakai secara silih berganti dengan maksud yang sama.
Sebenarnya masing-masing istilah ini mempunyai pengertian yang berbeda, dan
perbedaan ini masih jarang diperhatikan orang, begitu pula oleh sebagian besar
para ahli atau penulis tentang psikologi pendidikan. Sebagai ilustratif untuk
mengenal perbedaan pengertian tentang pertumbuhan dan perkembangan, di bawah
ini kami kemukakan suatu gambaran logis tentang manusia sebagai makhluk yang
tumbuh dan berkembang. Gambaran ini disadap dari pandangan John Dewey tentang
kehidupan manusia. (Soemanto, 1983: 42)
Apakah
manusia itu? Manusia adalah makhluk yang hidup, apakah hidup itu? Hidup pada
hakikatnya adalah suatu proses pertumbuhan. Yang bertumbuh adalah hidup
sedangkan yang tidak bertumbuh adalah mati. Itulah makna kehidupan sesuatu,
yaitu sesuatu harus bertumbuh, dan kita tahu sekarang, bagaimanakah manusia
yang tidak bertumbuh itu? Kemudian timbul pertanyaan: apakah pertumbuhan itu?
Pertumbuhan adalah suatu proses penyesuaian pada tiap-tiap fase perubahan.
Apakah pertumbuhan selalu diikuti dengan perkembangan? Perkembangan sesuatu
sering tergantung pada faktor-faktor pendukung petumbuhan sesuatu. Apakah
perkembagan itu? Perkembangan pada dasarnya adalah perubahan kualitatif sesuatu
sehingga membuahkan sesuatu atau manfaat bagi pihak lain. (Soemanto, 1983:
42-43)
Gambaran
ilustratif di atas kiranya cukup memberikan keterangan bagi kita, ternyata
terdapat perbedaan maksud antara istilah pertumbuhan dan perkembangan.
Pertumbuhan adalah proses pertambahan ukuran, volume dan massa yang bersifat
irreversible(tidak dapat balik) karena adanya pembesaran sel dan pertambahan
jumlah sel akibat adanya proses pembelahan sel. Pertumbuhan dapat dinyatakan
secara kuantitatif karena pertumbuhan dapat diketahui dengan cara melihat
perubahan yang terjadi pada makhluk hidup yang bersangkutan. Contohnya adalah
pertumbuhan pada tumbuhan dapat di lihat dengan adanya perubahan tinggi
babatang, menghitung jumlah daun, jumlah bunga, dll. Sedangkan Perkembangan
adalah suatu proses untuk menuju kedewasaan pada makhluk hidup yang bersifat
kualitatif, artinya tidak dapat dinyatakan dengan suatu bilangan tatpi dapat di
amati dengan mata telanjang. Proses perkembangang dapat di lihat dengan
terbentuknya organ-organ perkembangbiakan seperti munculnya bunga pada tumbuhan
yang kemudian di ikuti oleh buah atau umbi, dll.
Pertumbuhan
yang menyangkut perubahan materiil dan struktur fisiologis, sangat dipengaruhi
oleh aspek-aspek tertentu yang mana aspek-aspek itu sendiri saling berhubungan.
Adapun aspek-aspek yang mempengaruhi pertumbuhan meliputi:
1) Anak
sebagai keseluruhan
Anak sebagai
keseluruhan tumbuh oleh kondisi dan interaksi dari setiap aspek kepribadian
yang ia miliki. Intelek anak berhubungan dengan kesehatan jasmaninya, kesehatan
jasmaninya sangat dipengaruhi oleh emosi-emosi, sedangkan emosinya dipengaruhi
oleh keberhasilannnya di sekolah, kesehatan jasmani dan kapasita mentalnya.
2) Umur
mental anak mempengaruhi pertumbuhannya
Umur
mental anak mempengaruhi kapasitas mentalnya. Kapasitas mental anak menentukan
prestasi belajarnya. Hasil penelitian menunjukan adanay hubungan yang erat
antara prestasi dan pertumbuhan atau tingkat kematangan anak.
3) Permasalahan
tingkah laku sering berhubungan dengan pola-pola pertumbuhan
Anak-anak
yang pertumbuhannya cepat, lambat, atau tidak teratur sering menimbulkan
problem-problem pengajaran. Anaka memiliki energi yang diproleh dari makanan
dan gizi. Energi ini digunakan untuk : (1) aktivitas-aktivitas, dan (2)
pertumbuhan.
4) Penyesuaian
pribadi dan sosial mencerminkan dinamika pertumbuhan
Peristiwa-peristiwa
yang terjadi pada anak akibat pertumbuhan dan setelah dihadapkan dengan
tantangan kultural masyarakat terutama harapan-harapan orang gtua, guru-guru,
dan teman-teman sebayanya, tercermin di dalam penyesuaian sosialnya.
(Soemanto, 1983: 54-55)
Sementara
itu, apabila berbicara mengenai perkembangan yang lebih mengarah pada aspek
yang sifatnya kualitatif dapat ditentukan tahapan-tahapan perkembangan pribadi
manusia secara paedagogis dari sudut tinjauan teknis umum penyelenggaraan
pendidikan sesuai pendapat John Amos Cornius (1952) terdiri dari lima tahap,
yaitu:
1.
Tahap enam tahun
pertama; tahap perkembangan fungsi pengindraan yang memungkinkan anak mulai
mampu untuk mengenal lingkungan.
2.
Tahap enam tahun kedua;
tahap perkembangan fungsi ingatan dan imajinasi individu yang memungkinkan anak
mulai mampu menggunakan fungsi intelektual dalam usaha mengenal dan
menganalisis lingkungannya.
3.
Tahap enam tahun
ketiga; tahap perkembangan fungsi intelektual yang memungkinkan anak mulai
mampu mengevaluasi sifat-sifat serta menemukan hubungan-hubungan antar variabel
di dalam lingkungannya.
4.
Tahap enam tahun
keempat; tahap perkembangan fungsi kemampuan berdikari, “self-directing” dan
“self-controle”.
5.
Tahap kematanagn
pribadi; tahap dimana intelek memimpin perekembangan semua aspek kepribadian
menuju kematangan pribadi dimana manusia berkemampuan mengasihi Tuhan dan
sesama manusia.
Menurut H.C. Whetherington dalam bukunya yang berjudul Educational Psychology
ada sembilan prinsip-prinsip umum pertumbuhan dan perkembangan. Namun tidak
semua diuraikan disini, ini bukan berarti tidak penting, melainkan lebih
menekankan yang paling menonjol dan paling dirasakan dalam praktek nyata.
Prinsip-prinsip tersebut ialah:
1.
Efek usaha-usaha
belajar bergantung kepada tingkat kedewasaan yang telah tercapai.
2.
Pertumbuhan lebih cepat
jalannya dalam tahun-tahun pertama.
3.
Setiap individu
mempunyai tempo perkembangan sendiri.
4.
Setiap golongan
individu mengikuti pola perkembangan umum yang sama.
5.
Hereditet dan
lingkungan sama pentingnya bagi pertumbuhan.
6.
Sifat-sifat psikis
timbul bersama-sama dan tidak secara berturut-turut. (Mustaqim; 2001)
2.2 Karakteristik
Pertumbuhan dan Perkembangan anak dan Remaja
2.2.1 Karakteristik
Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Sebagian
besar orangtua menganggap awal masa kanak-kanak sebagai usia yang
mengandung masalah atau sulit. Masa bayi sering membawa masalah bagi
orang tua dan umumnya berkisar pada masalah fisik bayi. Dengan datangnya masa
kanak-kanak, sering terjadi masalah perilaku yang lebih menyulitkan daripada
masalah perawatan fisik masa bayi. Alasan masalah perilaku lebih sering terjadi
di awal masa kanak-kanak ialah karena anak-anak muda sedang dalam proses
pengembangan kepribadian yang unik yang menuntut kebebasan yang umumnya kurang
berhasil. Di sisi lain, mereka seringkali bandel, keras kepala, tidak menurut
negativistic, dan melawan. Seringkali marah tanpa alasan. Pada malam hari
terganggu oleh mimpi buruk dan pada siang hari ada rasa takut yang
tidak rasional, dan merasa cemburu. Sebagian orang tua menganggap awal masa
kanak-kanak sebagai usia yang mengandung masalah atau usia sulit, orangtua juga
mengganggap masa awal kanak-kanak sebagai usia mainan, karena sebagian besar
waktunya dihabiskan dengan mainan.
Sebutan
yang digunakan para pendidik; Para pendidik menyebut tahun-tahun awal masa kanak-kanak
sebagai usia prasekolah. Sebutan yang digunakan para ahli psikologi; sebutan
yang banyak digunakan adalah usia kelompok, yaitu masa di mana anak-anak
mempelajari dasar-dasar perilaku social sebagai persiapan bagi kehidupan social
yang lebih tinggi yang diperlukan untuk penyesuaian diri pada waktu mereka
masuk kelas satu. Karena perkembangan utama yang terjadi selama awal masa
kanak-kanak seputar penguasaan dan pengendalian lingkungan, banyak ahli
psikologi melabelkan awal masa kanak-kanak sebagai usia menjelajah, artinya
menunjukkan bahwa anak-anak ingin mengetahui keadaan lingkungannya, bagaimana
mekanismenya, bagaimana perasaannya dan bagaimana ia dapat menjadi bagian dari
lingkungan. Salah satu caranya dengan bertanya. Jadi periode ini sering disebut
sebagai usia bertanya. Hal lain juga yang paling menonjol adalah meniru
pembicaraan dan tindakan orang lain. Sehingga dikenal dengan usia meniru. Namun
demikian kecendrungan yang lebih dari sekedar meniru adalah menujukkan
kreatifitas dalam bermain dibandingkan dengan masa-masa lain dalam
kehidupannya. Dengan alasan ini, ahli psikologi juga menamakan sebagai usia
kreatif.
Karakteristik Siswa Sekolah
Dasar (anak-anak) Meliputi :
a. Faktor
intelektual
Faktor
intelektual dari siswa adalah kemampuan untuk berhubungan dengan lingkungan
hidup dan dirinya sendirinya sendiri dalam bentuk representative, khususnya
konsep dan berbagai lambang dan simbol huruf, angka, kata dan
gambar. Intelektualisme bisa diartikan sebagai akal atau pikiran. Pikiran memiliki
perkembangan yang bisa menentukan. Karena itulah para pendidik disamping
mengembangkan aspek-aspek lain dari anak-anak didik kita untuk memberikan
bimbingan yang sebaik-baiknya bagi perekmbangan pikiran itu. Proses dari
jalannya berpikir siswa melalui pembentukan pengertian logis, dimana siswa
dalam membentuk pengertian logis ini sebelumnya menganalisis ciri-ciri dari
sejumlah obyek yang sejenis, kemudian membandingkan ciri-ciri mana yang tidak
sama, mana yang selalu ada, mana yang hakiki dan mana yang tidak. Supaya dapat
berpikir yang tepat dan cepat, maka bekal yang harus dipunyai seperti halnya
pengetahuan siswa, faktor sosial siswa, bahasa siswa, bakat dan sebagainya yang
semua hal tersebut merupakan faktor dalam dan luar yang saling menunjang terbentuknya
faktor intelektual dari siswa.
Dengan
mulainya anak sekolah, maka dunianya semakin luas dan demikian pula minatnya.
Dengan bertambah luasnya minat, maka bertambah pula pengeetian tentang
ornag-orang dan benda-benda yang sebelumnya sedikit sekali atau sama sekali
tidak berarti baginya. Tidak saja pemahamanya mengenai lingkungan meningkat
melalui pengajaran formal yang diterima dikelas, tetapi juga diperluas melalui
pikiran dengan teman-teman sebayanya dan melaui kemampuan membacanya. Dari
pengalamanya diperluas dan dari pengajaran-pengajarannya di sekolah, akan
mengembangkan sikap yang lebih realistis mengenai hidup.
b. Faktor
Kognitif
Santrock (2007)
menjelaskan bahwa anak-anak dalam memahami dunia mereka secara aktif, mereka
menggunakan skema (kerangka kognitif atau kerangka referensi). Sebuah skema
adalah konsep secara eksis pada individu yang dipergunakan untuk
mengorganisasikan dan menginterpretasikansebuah informasi. Oleh karena itu
kemampuan kognitif ini, siswa dapat menghadirkan sifat realitas dunia didalam
dirinya sendiri, dari yang bersifat material dan berperaga seperti perabot
rumah tangga, kendaraan, bangunan dan orang, sampai hal-hal yang tidak bersifat
material dan peraga seperti ide “ keadilaan, kejujuran” dan lain sebagainya.
Adapun yang termasuk dalam aktivitas
kognitif ini yaitu :
1.
Mengingat
adalah suatu aktivitas
kognitif, dimana menyadari bahwa pengetahuannya berassal dari masa yang lampau
atau berdasarkan kesan-kesan yang diproleh dari masa lampau. Pada saat
mempelajari materi untuk pertama kali, siswa mengolah bahan pelajaran ( fase
fiksasi), yang kemudian disimpan dalam ingatan ( fase retensi ; akhirnya materi
yang dipelajari dahulu dan disimpan itu diingat kembali( fase efokasi ). Siswa
dapat belajar ,untuk mengingat kembali dengan lebih baik, terutama dengan
memperhatikan dan mempelajari materi yang harus diingat kelak dengan
sungguh-sungguh. Jadi kemajuan mengingat kembali, sangat tergantung pada
konsentrasi dan mengolah materi pelajaran pada saat fiksasi. Hal ini menjadi
nyata bila siswa menghapal sesuatu dan bila siswa memecahkan sesuatu dengan
mencari pemahaman.
2.
berpikir
siswa berhadapan dengan
obyek-obyek yang diwakili dalam kesdaran. Jadi orang tidak langsung menghadapi
obyek secara fisik yang terjadi dalam mengamati sesuatu yang diamati bila
dilihat, mendengar atau meraba, dalam berpikir obyek hadir dalam bentuk
representative. Bentuk-bentuk representative yang paling pokok adalah
tanggapan, pengertian atau konsep lambang dan verbal. Maka semakin berkembang
si anak, makin kaya ia akan tanggapan-tanggapan.
c. Faktor
Verbal
Riset
penting ekstensif terhadap dua belahan otak adalah pada aspek bahasa. Dalam
kebayakan individu, ucapan dan tata bahasa berada di belahan otak kiri (
santrock, 2007). Faktor verbal pada massa usia sekolah adalah pengetahuan yang
dimiki seseorang dapat diungkapkan dalam bentuk bahasa. Memahami arti apa yang
di
ucapkan
orang lain berkembang cepat pada masa ini. Pada masa ini mereka mengerti dengan
mudah intruksi-intruksi yang diberikan oleh orang lain dan mengerti arti
cerita-cerita yang dibacakan kepada mereka. Mendengarkan radio dan menonton
televise ternyata sangat menguntungkan bagi perkembangan pendaharaan bahasa
anak-anak.
Oleh
karena itu keterampilan-keterampilan motorik memainkan peran penting dalam
keberhasilan anak disekolah dan dalam pergaulan dengan anak-anak lain, ia
cenderung untuk menarik diri dari kelompok dan mengembangkan sikap-sikap yang
kurang sehat terhadap dirinya sendiri dan kehidupan sosialnya. Pada umumnya
anak bila diberikan kesempatan, sering sekali mengikiuti kegiatan motorik yang
beragam. Mereka mau berlatih tanpa kenal lelah untuk mencapai sukses dan mereka
bangga atas pencapaianya. Dengan berlatih akan mencapai peningkatan baik dalam
kecepatan maupun ketepatan.
d. Faktor
emosional
Emosi-emosi
yang umum dipahami pada tahap perkembangan ini adalah marah, takut, cemburu,
kasih sayang, rasa ingin tahu dan kegembiraan. Masing-masing emosi tersebut
mempunyai pola ekspresi yang telah berkembang baik pada masa prasekolah dan
masing-masing emosi itu ditimbulkan oleh perangsang yang umum dialami
kebanyakan anak-anak.
Menginjak
masa sekolah, anak segera menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar
tidaklah mudah diterima dimasyarakat. Dengan demikian ia mempunyai motivasi
yang kuat untuk belajar mengendalikan dan mengungkapkan emosinya. Emosi-emosi
yang terdapat pada pra sekolah, terdapat juga pada masa sekolah. Perbedaannya
terletak pada dua hal : pertama, situasi yang menimbulkan emosi. Kedua, dalam
bentuk pertanyaannya atau ekspresinya. Perbedaan ini adalah perbedaan hasil dari
bertambah luasnya pengalaman dan pengetahuan anak.
2.2.2 Karakteristik
Pertumbuhan dan Perkembangan pada Remaja
Karakteristik pertumbuhan dan
perkembangan remaja yang mencakup perubahan transisi biologis, transisi
kognitif, dan transisi sosial.
1. Transisi
biologis
Menurut
Santrock (2003 : 91) perubahan fisik yang terjadi pada remaja terlihat pada
saat masa pubertas yaitu meningkatnya tinggi dan berat badan serta kematangan
sosial. Diatara perubahan fisik itu, yang terbesar pengaruhnya pada perkembangan
jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh. Selanjutnya mulai berfungsinya alat-alat
reproduksi (Sarlito Wirawan Sarwono, 2006 : 52). Pada dasarnya perubahan fisik
remaja disebabkan oleh kelenjar pituitary dan kelenjar hypothalamus. Kedua
kelenjar itu masing-masing menyebabkan terjadinya pertumbuhan ukuran tubuh dan
merangsang aktivitas serta pertumbuhan alat kelamin utama pada kedua remaja
(Sunarto & Agung Hartono, 2002 : 94)
2. Transisi
Kognitif
Menurut
Piaget (Santrock, 2002 : 15) pemikiran operasional formal berlangsung antara
usia 11 sampai 15 tahun. Pemikiran operasional formal lebih abstrak, idealis,
dan logis daripada pemikiran operasional konkret. Piaget menekankan bahwa
remaja terdorong untuk memahami dunianya karena tindakan yang dilakukannya
merupakan penyesuaian diri biologis. Secara lebih nyata mereka mengaitkan suatu
gagasan dengan gagasan lain. Mereka bukan hanya mengorganisasikan pengamatan
dan pengalaman melainkan juga menyesuaikan cara berpikir mereka untuk
menyertakan gagasan baru karena informasi tambahan membuat pemahaman lebih
mendalam. Menurut Piaget (Santrock, 2003 : 110) secara lebih nyata pemikiran
operasional formal bersifat lebih abstrak, idealis dan logis. Remaja berpikir
lebih abstrak dibandingkan dengan anak-anak misalnya dapat menyelesaikan
persamaan aljabar abstrak. Remaja juga lebih idealis dalam berpikir seperti
memikirkan karakteristik ideal dari diri sendiri, orang lain dan dunia. Remaja
berpikir secara logis yang mulai berpikir seperti ilmuwan, menyusun berbagai
rencana untuk memecahkan masalah dan secara sistematis menguji cara pemecahan
yang terpikirkan. Dalam perkembangan kognitif, remaja tidak terlepas dari
lingkungan sosial. Hal ini menekankan pentingnya interaksi sosial dan budaya
dalam perkembangan kognitif remaja.
3. Transisi
Sosial
Santrock
(2003 : 24) mengungkapkan bahwa pada transisi sosial remaja mengalami perubahan
dalam hubungan individu dengan manusia lain yaitu dalam emosi, kepribadian, dan
dalam peran dari konteks sosial dalam perkembangan. Membantah orang tua,
serangan agresif terhadap teman sebaya, perkembangan sikap asertif, kebahagiaan
remaja dalam peristiwa tertentu serta peran gender dalam masyarakat,
merefleksikan peran proses sosio-emosional dalam perkembangan remaja. John
Plavell (Santrock, 2003 : 125) juga menyebutkan bahwa kemampuan remaja untuk
memantau kognisi sosial mereka secara efektif merupakan petunjuk penting
mengenai adanya kematangan dan kompetensi sosial mereka. Perkembangan sosial
anak telah dimulai sejak bayi, kemudian pada masa kanak-kanak dan selanjutnya
pada masa remaja. Hubungan sosial anak pertama-tama masih sangat terbatas
dengan orang tuanya dalam kehidupan keluarga, khususnya dengan ibu dan
berkembang semakin meluas dengan anggota keluarga lain, teman bermain dan teman
sejenis maupun lain jenis (Rita Eka Izzaty dkk, 2008:139).
1. Hubungan
dengan teman sebaya
Menurut
Santrock (2003 : 219) teman sebaya (peers) adalah anak-anak atau remaja dengan
tingkat usia atau tingkat kedewasaan yang sama. Jean Piaget dan Harry Stack
Sullivan (Santrovk, 2003 : 220) mengemukakan bahwa anak-anak dan remaja mulai
belajar mengenai pola hubungan timbal balik dan setara melalui interaksi dengan
teman sebaya. Mereka juga belajar untuk mengamati dengan teliti minat dan
pandangan teman sebaya dengan tujuan untuk memudahkan proses penyatuan dirinya
ke dalam aktivitas teman sebaya yang sedang berlangsung.
Ada beberapa strategi yang tepat untuk
mencari teman menurut Santrock (2003 : 206), yaitu:
Menciptakan interaksi sosial yang baik
dari mulai menanyakan nama, usia, dan aktivitas favorit.
a. Bersikap
menyenangkan, baik dan penuh perhatian.
b. Tingkah
laku yang prososial seperti jujur, murah hati dan mau bekerja sama.
c. Menghargai
diri sendiri dan orang lain.
d. Menyediakan
dukungan sosial seperti memberikan pertolongan, nasihat, duduk berdekatan,
berada dalam kelompok yang sama dan menguatkan satu sama lain dengan memberikan
pujian.
Ada beberapa dampak apabila terjadi
penolakan pada teman sebaya. Menurut Hurlock (3002 : 307), yaitu:
a. Akan
merasa kesepian karena kebutuhan sosial mereka tidak terpenuhi.
b. Anak
merasa tidak bahagia dan tidak aman.
c. Anak
mengembangkan konsep diri yang tidak menyenangkan, yang dapat menimbulkan
penyimpangan kepribadian.
d. Kurang
memiliki pengalaman belajar yang dibutuhkan untuk menjalani proses sosialisasi.
e. Akan
merasa sangat sedih karena tidak memperoleh kegembiraan yang dimiliki teman
sebaya mereka.
f. Sering
mencoba memaksakan diri untuk memasuki kelompok dan ini akan meningkatkan
penolakan kelompok terhadap mereka semakin memperkecil peluang mereka untuk
mempelajari berbagai keterampilan sosial.
g. Akan
hidup dalam ketidakpastian tentang reaksi sosial terhadap mereka, dan ini akan
menyebabkan mereka cemas, takut, dan sangat peka.
h. Sering
melakukan penyesuaian diri secara berlebihan, dengan harapan akan meningkatkan
penerimaan sosial mereka.
Sementara itu Hurlock (2000 : 298)
menyebutkan bahwa ada beberapa manfaat yang diperoleh jika seorang anak dapat
diterima dengan baik. Manfaat tersebut yaitu:
a. Merasa
senang dan aman.
b. Mengembangkan
konsep diri yang menyenangkan karena orang lain mengakui mereka.
c. Memiliki
kesempatan untuk mempelajari berbagai pola perilaku yang diterima secara sosial
dan keterampilan sosial yang membantu kesinambungan mereka dalam situasi
sosial.
d. Secara
mental bebas untuk mengalihkan perhatian mereka keluar dan untuk menaruh minat
pada orang atau sesuatu di luar diri mereka.
e. Menyesuaikan
diri terhadap harapan kelompok dan tidak mencemooh tradisi sosial.
2. Hubungan
dengan Orang Tua
Menurut
Steinberg (Santrock, 2002 : 42) mengemukakan bahwa masa remaja awal adalah
suatu periode ketika konflik dengan orang tua meningkat melampaui tingkat masa
anak-anak. Peningkatan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu
perubahan biologis pubertas, perubahan kognitif yang meliputi peningkatan
idealism dan penalaran logis, perubahan sosial yang berfokus pada kemandirian
dan identitas, perubahan kebijaksaan pada orang tua, dan harapan-harapan yang
dilanggar oleh pihak orang tua dan remaja.
Collins
(Santrock, 2002 : 42) menyimpulkan bahwa banyak orang tua melihat remaja mereka
berubah dari seorang anak yang selalu menjadi seorang yang tidak mau menurut,
melawan, dan menantang standar-standar orang tua. Bila ini terjadi, orang tua
cenderung berusaha mengendalikan dengan keras dan memberi lebih banyak tekanan
kepada remaja agar menaati standat-standar orang tua.
Dari
uraian tersebut, ada baiknya jika kita dapat mengurangi konflik yang terjadi
dengan orang tua dan remaja. Berikut ada beberapa strategi yang diberikan oleh
Santrock, (2003 : 24) yaitu: 1) menetapkan aturan-aturan dasar bagi pemecahan
konflik. 2) mencoba mencapai suatu pemahaman timbal balik. 3) mencoba melakukan
curah pendapat (brainstorming). 4) mencoba bersepakat tentang satu atau lebih
pemecahan masalah. 5) menulis kesepakatan. 6) menetapkan waktu bagi suatu
tindak lanjut untuk melihat kemajuan yang telah dicapai.
Masa remaja
adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik
secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama
masa remaja.
1.
Peningkatan
emosional
Terjadi
secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm &
stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama
hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan
emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda
dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan
pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti
anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan
tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak
jelas pada remaja akhir yang duduk di masa kuliah.
2.
Perubahan
yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual
Terkadang perubahan ini membuat
remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan
fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem
sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti
tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap
konsep diri remaja.
3.
Perubahan
dalam hal yang menarik bagi dirinya
Hubungan dengan orang lain. Selama
masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa
kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini
juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka
remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang
lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja
tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama,
tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.
4.
Perubahan
nilai
Dimana apa yang mereka anggap
penting pada masa kanak- kanak menjadi kurang penting karena sudah
mendekati dewasa.
5.
Kebanyakan
remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi
Di satu sisi mereka menginginkan
kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai
kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul
tanggung jawab tersebut.Remaja ada diantara anak dan orang dewasa, remaja masih
belum mampu untuk menguasai fungsi fisik maupun psikisnya.
Remaja ada dalam tempat marginal. Berhubung ada
macam-macam persyaratan untuk dapat dikatakan dewasa maka lebih mudah untuk
dimasukan katergori anak dari pada dewasa. Baru pada abad ke 18 maka masa
remaja di pandang sebagai periode tertentu lepas dari periode kanak-kanak.
Meskipun begitu kedudukan dan status remaja berbeda dari pada anak, masa remaja
menunjukan dengan jelas sifat-sifat masa transisi atau peralihan karena remaja
belum memperoleh status orang dewasa tetapi tidak lagi memiliki status kanak-kanak.
Remaja menurut WHO adalah suatu masa
pertumbuhan dan perkembangan dimana:
1. Individu
berkembang dari saat pertama kali ia menunjukan tanda-tanda seksual sekundernya
sampai saat ia mencapai kematamgan seksual.
2. Individu
mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi
dewasa.
3. Terjadi
peralihan dari kertengantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang
relative lebih mandiri.
Havigurst
(Garrison,1956:14-15)mengemukakan 10 jenis tugas perkembangan remaja yaitu:
1. Mencapai
hubungan dengan teman lawan jenisnya secara lebih memuaskan
dan matang;
2. Mencapai
perasaan seks dewasa yang diterima secara sosial;
3. Menerima
kedaan badanya dan menggunakanya secara efektif;
4. Mencapai
kebebasan emosional dari orang dewasa;
5. Mencapai
kebebasan ekonomi;
6. Memilih
dan menyipkan suatu pekerjaan;
7. Menyiapkan
perkawinan dan kehidupan berkeluarga;
8. Mengembangkan
ketrampilan dan kosep intelektual yang perlu bagi warga Negara yang kompeten;
9. Menginginkan
dan mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial;dan
10. Menggapai
suatu perangkat nilai yang digunakan sebagai pedoman tingkah laku
2.3 Pertumbuhan dan Perkembangan Anak dan
Remaja sebagai Peserta Didik
Perkembangan
bagi setiap anak sebagai individu mempunyai sifat yang unik. Saufrock dan
Yussen menyatakan sebagai berikut, “Eas us develops some other individual, and
like individual, like some other invidual, and like no other individual”.
Maksudnya bahwa tiap-tiap invidu berkembang dengan cara tertentu, seperti
individu lain, dan seperti tidak ada invividu yang lain.
Garry 1963 (oxendine, 1984: 317)
mengelompokan perbedaan individual kedalam bidang-bidang berikut ini.
1. Perbedaan
fisik, seperti usia, berat badan, jenis kelamin, pendengaran, dan kemampuan
bertindak.
2. Perbedaan
social,seperti status ekonomi, agama, hubungan keluarga dan suku.
3. Perbedaan
kepribadian, seperti watak, minat, motif, dan sikap.
4. Perbedaan
intelegensi dan kemampuan dasar.
5. Perbedaan
kecakapan disekolah
Perbedaan fisik
bukan saja terbatas pada ciri-ciri yang dapat diamati dengan panca indra,
seperti tinggi badan warna kulit, jenis kelamin, nada suara, dan bau keringat.
Gejala yang dapat diamati bahwa mereka menjadi lebih atau kurang dalam bidang
tertentu dibandingkan dengan yang lainnya.
a. Perbedaan
kognitif
Proses
belajar mengajar adalah upaya menciptakan lingkungan yang positif yang
direncanakan untuk mengembangkan faktor dasar yang dimiliki seseorang. Menurut
Blom, proses belajar, baik disekolah maupun diluar sekolah menghasilkan tiga
kemampuan yang dikenal sebagai taxonomi blom, yaitu kognitif, efektif, dan
psikomotorik. Menurut Myers (1996) Kognitif adalah istilah umum yang mencakup
segenap mode pemahaman, yakni persepsi, imajinasi, penangkapan makna,
penilaian, dan penalaran.sedangkan menurut chaplin (2002), dijelaskan bahwa
kogniif adalah konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan, mengamati,
melihat, memperhatikan, memberikan, menyangka, membayangkan, memperkirakan,
menduga, dan menilai.
b. Perbedaan
dalam kecakapan bahasa
Bahasa
merupakan salah satu kemapuan yang sangat penting dalam kehidupan manusia,
yaitu untuk menyatakan pikiran dan perasaanya dalam bentuk ungkapan kata dan
kalimat yang bermakna dan sistematis. Kemampuan berbahasa ini berbeda antara
satu individu dan individu lainya, serta sangat dipengaruhi oleh faktor
kecerdasan dan faktor lingkungan. Faktor lain yang juga penting adalah faktor
fisik, terutama organ berbicara.
c. Perbedaan
dalam kecakapan motoric
Kecakapan
motoric atau kemampuan psikomotorik merupakan kemampuan untuk melakukan
koordinasi kerja saraf motoric yang dilakukan oleh syaraf pusat untuk melakukan
berbagai kegiatan. Semakin dewasa seseorang, semakin matang pula fungsi-fungsi
fisiknya. Kemampuan motoric dipengaruhi oleh kematangan pertumbuhan fisik dan
tingkat kemampuan berfikir seseorang. Karena kematangan pertumbuhan fisik dan
berfikir setiap orang berbeda-beda.
d. Perbedaan
dalam latar belakang
Latar
belakang keluarga,baik dilihat dari segi sosio ekonomi maupun social kultural
adalah berbeda-beda.perbedaab latar belakang dan pengalaman dapat memperlancar
atau menghambat kemampuan atau prestasi seseorang. Pengalamn belajar yang
dimiliki anak dirumah mempengaruhi kemauan dan keterampilan untuk berpretasi
dalam situasi belajar yang disajikan. Minat dan sikapnya terhadap mata
pelajaran tertentu, kecakapan atau kemauan untuk berkonsentrasi pada bahan
pelajaran, dan kebiasaan-kebiasaan belajrar merupakan faktor-faktor perbedaan
individual diantara para siswa.
e. Perbedaan
bakat
Bakat
adalah kemampuan khusus yang dibawa atau dimiliki seseorang sejak lahir.
Kemampuan tersebut akan berkembang secara baik apabila mendapatkan rangsangan
dan latihan secara tepat.sebaliknya,bakat itu tidak akan berkembang jika
lingkungan tidak memberi kesempatan, dalam arti tidak ada rangsangan dan
latihan yang baik. Dalam hal pengembangan bakat ini, makna pendidikan menjadi
sangat penting artinya.
f. Perbedaan
dalam kesiapan belajar
Perbedaan
individual tidak hanya disebabkan oleh keragaman, kematangan, tetapi juga oleh
keragaman latar belakang sebelunya. Anak berusia 6 tahun yang memasuki sekolah
dasar kelas satu mungkin berbeda satu, dua, bahkan 3 tahun dalam tingkat
kesiapan untuk mengambil manfaat dari pendidikan formal.
Disamping semua itu faktor faktor yang
pempengaruhi perkembangan peserta didik apabila perkembangan dikaitkan dengan
dunia pendidikan adalah sebagai berikut:
3.
Faktor
internal,
yaitu faktor yang ada
dalam diri siswa itu sendiri yang meliputi pembawaan dan potensi psikologis
tertentu yang turut mengembangkan dirinya sendiri. Dengan demikian faktor
internal bisa dibagi menjadi 2 macam faktor pisik dan faktor psikis
a. Faktor pisik
Di
dunia ini orang mempunyai bentuk tubuh yang bermacam-macam. Ada yang tinggi
ceking, ada yang pendek gemuk, dan ada yang sedang antara tinggi dan besar
badanya. Sudah jelas, masing-masing mmpunyai pengaruh tersendiri bagi
perkembangan seorang anak
b. Faktor psikis
Dalam
hal kejiwaan, ada anak periang, sehingga banyak pergaulan. Akan tetapi ada pula
yang selalu tampak murung, pendiam, mudah tersinggung karenanya suka menyendiri
4.
Faktor
Eksternal
yaitu hal-hal yang
datang atau ada diluar diri siswa yang meliputi lingkungan (khususnya
pendidikan) dan pengalaman berinteraksi siswa tersebut dengan lingkungan. Faktor
eksternal dibagi menjadi 6 macam: faktor biologis, physis, ekonomis, cultural,
edukatif, dan religious
a. Faktor biologis
Bisa
diartikan, biologis dalam konteks ini adalah faktor yang berkaitan dengan
keperluan primer seorang anak pada awal
kehidupanya. Faktor ini wujudnya berupa pengaruh yang
datang pertama kali dari pihak ibu dan
ayah.
b. Factor physis
Maksudnya
adalah pengaruh yang datang dari lingkungan geografis, seperti iklim keadaan
alam, tingkat kesuburan tanah, jalur komunikasi dengan daerah lain, dsb. Semua
ini jelas membawa dampak masing -masing terhadap perkembangan anak-anak yang
lahir dan dibesarkan disana.
c. Faktor ekonomis
Dalam
proses perkembanganya. Betapapun ukuranya bervariasi, seorang anak pasti
memerlukan biaya. Biaya untuk makan dan minum dirumah, tetapi juga untuk
membeli alat-alat sekolah
d. Faktor cultural
Di
Indonesia ini saja dari aceh sampai Irian jaya, jika dihitung ada berpuluh
bahkan beratus kelompok masyarakat yang masing-masing mempunyai kultur, budaya,
adat istiadat, dan tradisi tersendiri, dan hal ini jelas berpengaruh terhadap
perkembangan anak-anak.
e. Faktor edukatif
Pendidikan
tak dapat disangkal mempunyai pengaruh terhadap perkembangan anak manusia.
Malah karena sifatnya berencana dan sering kali diusahakan secara teratur,
faktor pendidikan ini relatif paling besar pengaruhnya disbanding factor yang
lain manapun juga
f. Faktor religious
Sebagai
contoh seorang anak Pedanda, sudah pasti ia akan berebeda dengan anak lain yang
tidak menjadi Pedanda, yang sekedar terhitung orang beragama, lebih-lebih yang
memang tidak beragama sama sekali, ini adalah soal perkembangan pula,
menyangkut proses terbentunya prilaku seorang anak dengan agama sebagai faktor
penting yang mempengaruhinya.
Sebagai
individu yang sedang tumbuh dan berkembang, maka proses pertumbuhan dan
perkembangan peserta didik tersebut sangat dipengaruhi oleh adanya interaksi
antara dua faktor yang sama-sama penting kedudukannya yaitu faktor hereditas
dan faktor lingkungan. Keberadaan dua faktor tersebut tidak bisa dipisakan satu
sama lainnya karena kenyataannya kedua faktor tersebut tidak bekerja
sendiri-sendiri dalam operasionalnya. Dari pernyataan di atas, maka dapatlah
ditarik beberapa butir implikasi pertumbuhan/perkembangan/kematangan peserta
didik terhadap penyelenggaraan pendidikan sebagai berikut:
a. Pertumbuhan
dan perkembangan manusia sejak lahir berlangsung dalam lingkungan sosial yang
meliputi semua manusia yang berada dalam lingkungan hidup itu.
b. Interaksi
manusia dengan lingkungannya sejak lahir menghendaki penguasaan lingkungan
maupun penyesuaian diri pada lingkungan.
c. Dalam
interaksi sosial, manusia sejak lahir telah menjadi anggota kelompok sosial
yang dalam hal ini ialah keluarga.
d. Atas
dasar keterikatan dan kewajiban sosial para pendidik terutama orang tua, maka
anak senantiasa berusaha menciptakan lingkungan fisik, lingkungan sosial, serta
lingkungan psikis yang sebaik-baiknya bagi proses pertumbuhan dan
perkembangannya.
e. Setelah
umur kronologis mencapai lingkungan tertentu, anak telah mencapai berbagai
tingkat kematangan intelektual, sosial, emosional, serta kemampuan jasmani yang
lain.
f. Kematangan
sosial merupakan lkitasan bagi kematangan intelektual, karena perkembangan
kecerdasan berlangsung dalam lingkungan sosial tersebut.
g. Kematangan
emosional meliputi kematangan sosial dan kematangan intelektual, karena
sebagian besar tingkah laku manusia dikuasai atau ditentukan oleh kondisi
perasaannya.
h. Kematangan
jasmani merupakan dasar yang meliputi semua kematangan.
i.
Pendidik yang
berkecimpung dalam pengasuhan anak dalam perkembangan di masa kanak-kanak
hendaklah memperhatikan keterkaitan antara berbagai segi kematangan jasmani dan
rohani anak dalam menciptakan lingkungan belajar yang efektif.
j.
Hasil-hasil belajar
yang mendasari hidup bermasyarakat banyak dicapai oleh anak dalam keluarga
terutama semasa masih kanak-kanak, yaitu sikap dan pola tingkah laku terhadap
diri sendiri dan terhadap orang lain.
k. Iklim
emosional yang menjiwai keluarga itu meliputi: hubungan emosional antara
keluarga, kadar kebebasan menyatakan diri dan tanggung jawab dalam pengambilan
keputusan.
l.
Seorang anak dimana
anak sekolah adalah seorang realis yang hendak mengenal kenyataan di sekitarnya
menurut keadaan senyatanya atau objektif apa adanya.
m. Pada
umumnya anak masa sekolah dan masa remaja mengalami pertumbuhan jasmani yang
semakin kuat dan sehat. Sedangkan dalam segi rohani ia mengalami perkembangan
pengetahuan dan kemampuan berpikir yang pesat pula karena ditunjang oleh hasrat
belajar yang sehat serta ingatan yang kuat.
n. Pemahaman
guru terhadap minat dan perhatian peserta didik akan sangat bermanfaat dalam
perencanaan program-program pendidikan maupun pengajaran.
Karakteristik umum
pertumbuhan/perkembangan peserta didik ialah diikuti dengan kegelisahan,
pertentangan, keinginan mencoba segala sesuatu, menghayal dan aktivitas
berkelompok.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Dari pembahasan
yang sudah penulis uraikan dapat ditarik beberapa simpulan sebgai inti sari
pembahasan, antara lain:
1. Pertumbuhan
adalah proses pertambahan ukuran, volume dan massa yang bersifat
irreversible(tidak dapat balik) karena adanya pembesaran sel dan pertambahan
jumlah sel akibat adanya proses pembelahan sel. Sedangkan Perkembangan adalah
suatu proses untuk menuju kedewasaan pada makhluk hidup yang bersifat kualitatif,
artinya tidak dapat dinyatakan dengan suatu bilangan tetapi dapat di amati
dengan mata telanjang
2. Karakteristik
Pertumbuhan dan Perkembangan pada anak meliputi faktor Intelektual, faktor
kognitif, faktor verbal, dan faktor emosional, sedangkan karakteristik
pertumbuhan dan perkembangan pada remaja mencakup perubahan transisi biologis,
transisi kognitif, dan transisi sosial. Selain itu juga hubungan dengan teman
sebaya dan hubungan dengan orang tua menjadi aspek yang sangat mempengaruhi
karakteristik perkembangan dan pertumbuhan pada remaja.
3. Gejala
yang dapat diamati terkait pertumbuhan dan perkembangan anak dan remaja sebagai
peserta didik adalah dengan membandingkan perbedaan kognitif, perbedaan
kecakapan bahasa, perbedaan kecakapan motorik, perbedaan latar belakang,
perbedaan bakat, perbedaan dalam kesiapan belajar, dan lainnya yang dipengaruhi
oleh faktor internl (faktor fisik dan faktor psikis) dan faktor external
(faktor biologis, faktor phisis, faktor ekonomi, faktor kultural, faktor edukatif,
dan faktor religius).
DAFTAR PUSTAKA
H. Mustaqim.
2001. Psikologi Pendidikan. Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo
http://faizahmazaaya.blogspot.com/2010/11/karakteristik-pertumbuhan-dan.html
http://myrahmatullah.blogspot.com/2009/10/perkembangan-peserta-didik.html
http://rezamega1911.blogspot.com/2013/02/karakteristik-perkembangan-anak_6.html
http://www.emakalah.com/2013/05/psikologi-perkembangan-peserta-didik.html
http://www.kamusq.com/2013/08/pertumbuhan-dan-perkembangan-adalah.html
https://ghiovanidebrian.wordpress.com/tugas-kuliah/semester-2/perkembangan-peserta-didik/bab-ii-pengertian-pertumbuhan-dan-perkembangan/
Soemanto, Wasty.
1983. Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Malang:
Rineka Cipta
Triguna. IBG
Yudha, dkk. 2009. Materi Pokok Psikologi Pendidikan. Jakarta
